
KELOMPOK PENYUSUN JURNAL:
ARDIAH FITRI, SARTINA, SYAHRIAL AR, RISKI ADIYAKSHA HAKIM
ACEH TENGGARA
Banjir bandang melanda hampir seluruh kawasan provinsi Aceh pada tanggal 25 November 2025. Puncak paling parahnya terjadi pada tanggal 27 November, di mana air sungai meluap serta kayu kayu gelondongan ikut hanyut dibawa arus banjir. Banjir ini awalnya diduga terjadi akibat hujan deras yang tak henti henti mengguyur selama kurang lebih 3 hari tiga malam dengan frekuensi sedang hingga berat. Ternyata, banyak kayu yang bermunculan di bawa oleh arus banjir sehingga para masyarakat berasumsi bahwa banjir ini juga dapat dipicu oleh deforestasi hutan skala besar besaran.
Di Aceh Tenggara sendiri, puncak banjir terjadi pada malam 26 November hingga 28 November. Luapan air sungai Alas mengakibatkan banyak rumah warga beserta isinya yang hanyut, bahkan banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan diri karena banjir yang datang secara tiba-tiba. Tak hanya itu, jembatan penghubung antar-kecamatan yang biasanya dilalui oleh masyarakat juga putus diterjang arus banjir yang sangat besar. Pada artikel kali ini, tim kami menyoroti jembatan penghubung antara Kecamatan Badar dengan Kecamatan Darul Hasanah yang mengalami kerusakan fatal akibat diterjang banjir bandang yang terjadi pada 27 November 2025. Arus air yang deras serta banyaknya material kayu yang hanyut dibawa arus banjir menyebabkan struktur jembatan tidak lagi mampu menahan tekanan, hingga akhirnya sebagian badan jembatan ambruk.
KRONOLOGI KEJADIAN
Banjir bandang yang terjadi pada tanggal 26 November terjadi setelah hujan tidak berhenti turun selama tiga hari berturut-turut. Menurut keterangan saksi mata, derasnya arus air yang membawa berbagai material dari hulu sungai, seperti batang pohon, bebatuan besar, lumpur tebal, serta puing-puing sisa rumah warga yang hanyut, membuat jembatan tak lagi mampu menahan tekanan kemudian sebagian badan jembatan ambruk pada Kamis, 27 November 2025.

DAMPAK TERHADAP AKTIVITAS WARGA SETEMPAT
Kerusakan jembatan penghubung ini mengakibatkan warga kesulitan untuk melakukan perjalanan ke berbagai fasilitas publik, seperti rumah sakit, pasar (pajak), perkantoran, maupun ke sekolah. Hal ini terjadi karena jembatan tersebut merupakan jalur utama penghubung menuju antar-kecamatan. Biasanya jarak yang ditempuh warga dari jembatan penghubung Badar-Darul Hasanah ke kota kabupaten sekitar ±10 Km, kemudian warga terpaksa harus menempuh perjalanan sejauh ±20 km dari jembatan Silayakh Kec. Lawe Alas, karena jembatan Mbarung Kec. Lawe Alas yang lebih dekat juga ikut terputus lebih dulu. Aktivitas ekonomi dan pendidikan bahkan sempat terhenti karna kondisi yang tidak memadai. Para petani kesulitan menjual hasil panen, terutama durian, manggis, dan hasil panen lainnya yang sedang musim pada saat itu. Distribusi logistik terhambat, mengakibatkan harga bahan pokok juga ikut naik karena para penjual memikirkan ’uang bensin’. Tarif angkutan umum pun ikut naik lebih dari dua kali lipat tarif biasanya. Para pelajar juga terpaksa libur, imbas dari jauhnya jarak tempuh dari sekolah ke rumah. Para pelajar yang tinggal di kecamatan terdampak terpaksa diliburkan karena jarak tempuh ke sekolah terlalu jauh.
JALUR ALTERNATIF SEBAGAI SOLUSI DAN TANTANGAN BARU BAGI MASYARAKAT
Setelah lebih dari satu bulan tidak bisa dilalui, akhirnya sebagai langkah darurat, warga bersama pemerintah membuka jalur alternatif yang membelah aliran sungai. Jalur ini kini menjadi urat nadi utama bagi mobilitas warga, mulai dari anak sekolah hingga masyarakat umum.
Jalur alternatif dibangun inisiatif dari tokoh-tokoh masyarakat setempat di dua kecamatan terdampak, yaitu badar dan Darul Hasanah. Jalur ini diperkirakan panjangnya ± 200 meter dan tembus ke desa Tanjung Aman kecamatan Darul Hasanah. Masyarakat bergotong royong untuk membangun tanggul dengan menggunakan karung diisi dengan batu kali. Setelah itu, alat berat dikerahkan untuk menimbun karung tersebut dengan kerikil supaya tanggul menjadi kuat dan kokoh, sehingga tidak mudah terbawa arus sungai.
Sesudah jalur alternatif dibangun, masyarakat tidak lagi terlalu kesulitan membawa dan menjual hasil bumi ke kota, para pelajar juga bisa kembali bersekolah, roda pemerintahan semakin membaik karena mempermudah akses transportasi dan logistik bagi masyarakat di sekitar. Meski membantu, solusi ini membawa tantangan baru yang tidak kalah berat. Jembatan yang semula memiliki dua bentang badan jalan yang panjang, kini tampak terputus di bagian tengah. Kekuatan arus sungai yang meluap telah menghantam fondasi utama hingga menyebabkan sebagian besar struktur jembatan ambruk dan hanyut terbawa arus. Pembangunan jembatan baru memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bagi warga setempat, melintasi dasar sungai adalah pilihan sulit yang harus diambil. Jika cuaca cerah, kendaraan bisa melintas meski harus lumayan berguncang saat melintas. Namun, saat cuaca mulai mendung, rasa was-was muncul meskipun bendungan sudah dibangun untuk membuat batas antara sungai dan jalan karena ada beberapa titik yang licin dan bisa membuat tergelincir
HARAPAN DAN ASPIRASI MASYARAKAT
Pemerintah daerah menyatakan bahwa jembatan akan dibangun menjadi jembatan permanen tetapi dalam kurun waktu yang masih sulit untuk ditentukan. Namun, masyarakat berharap proses birokrasi tidak memakan waktu terlalu lama karena jembatan ini merupakan jembatan penghubung utama kecamatan Badar dengan kecamatan Darul Hasanah.
Jalur sungai ini dianggap hanya sebagai “napas buatan” yang bisa mati sewaktu-waktu jika musim penghujan mencapai puncaknya. Warga berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan jembatan baru yang lebih kokoh dan aman, serta dapat menginformasikan linimasa pembangunan jembatan secepatnya.
PENUTUP
Peristiwa rusaknya jembatan akibat diterjang banjir bandang ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama agar pemulihan pasca bencana dapat berjalan cepat dan kehidupan warga kembali normal.
Bagi masyarakat setempat, jembatan tersebut adalah urat nadi kehidupan. Ia menghubungkan desa dengan desa, masyarakat dengan sumber penghidupan, serta warga dengan layanan pendidikan dan kesehatan. Ketika jembatan itu rusak, yang terputus bukan hanya jalan, tetapi juga harapan, kenyamanan, dan stabilitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas ekonomi terhambat, akses pendidikan terganggu, dan pelayanan kesehatan menjadi lebih sulit dijangkau, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Kerusakan jembatan ini juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam, khususnya di wilayah hulu sungai. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan minimnya pengelolaan daerah aliran sungai terbukti memperbesar potensi terjadinya banjir bandang. Oleh karena itu, upaya pemulihan pascabencana seharusnya tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik jembatan semata, tetapi juga disertai dengan langkah-langkah jangka panjang seperti reboisasi, normalisasi sungai, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan.

